Cast :
2MIN
Support Cast :
Lee Jinki, Kim Keybum, Kim
Jong In
Genre :
Romance
Leight :
Oneshoot (3733 kata)
Author : T.Y.M Yuhannie
Summary :
Summary :
Aku menemukanmu yang selalu saja menjadi malaikat di
kehidupanku,, saat aku terpuruk dirimu selalu mengkuatkanku.. Hadirmu
membuat hidupku berwarna.. Tetapi aku terperangkap pada janji masa lalu
dengannya.. Janji yang akan kulakukan demi dia.. Apapun itu... Dan kini
janji itu harus kupenuhi.. I'm trapped..
Annyeong...!! ^^ #BOWED..
Readers, ini aq share lagi FF 2min asli buatan sendiri..!! Jangan tanya genre karna author hanya bergenre YAOI..!! No Straight,, No SG..!! Hahaha...
Happy Reading,, and Don't Be Silent Reader!! ^^
---------------------------------------------------------------------------------------------
Kulangkahkan
kakiku sepelan mungkin. Takut? Mungkin bisa dikatakan begitu. Tak kuangkat
sedikitpun wajahku ke depan, menunduk. Ragu? Molla, aku pun tak tahu apa yang
kurasakan saat ini. Semakin pelan langkahku kurasakan. Hhhhhh… nafasku berat.
Dan pada akhirnya kuberanikan wajahku melihat kedepan. Ah.. sosok itu berdiri
jauh di depanku. Terasa jauh. Tapi dapat kulihat jelas punggung itu berdiri
dengan tegapnya. Bahu kekar itu. Seakan masih bisa kurasakan. I’m traped in
your arms..
***
-Flashback On-
Taemin POV
“Ne, Omma. Kue ulang tahunnya sudah ku ambil, ini
masih baru keluar dari toko kue. Ne, omma jangan khawatir, 10 menit lagi aq
sampai disana. PIP” Aissh.. Key hyung
emang bawel. Harusnya kan bukan aq yang harus mengambil kue ulang tahun
namjachingunya itu. Menyebalkan.
Bisakah
aq sampai tepat waktu ke taman dengan waktu 10 menit ini? Aishh.. lihat saja
nanti kalo aku masih kena omelannya, tak akan ku bantu lagi kau Hyung! Batinku.
Dengan tergesa-gesa kulangkahkan kaki ini menuju taman tempat Key hyung ingin
memberi surprise party buat namjachingunya itu. Lari? Tidak mungkin, bisa-bisa
kuenya jatuh. Dengan langkah cepat kulewati gedung-gedung sepanjang jalan ini.
Mata semua orang memang memandangku aneh. Bayangkan saja dengan tubuh kecilku
ini, aku membawa bingkisan besar yang berisi kue ulang tahun 2 tingkat juga
berjalan tergesa-gesa. Tapi apa boleh buat, daripada aku terkena omelan Key
hyung yang terkenal dengan mulut pedasnya itu, aku rela berjalan dengan muka
yang nyaris memerah karena malu ini.
Ahh
sampai juga.. Fiiuuhh,, untunglah pas 10 menit. Eum,, Key hyung dimana sih?? Kuedarkan
pandanganku mengelilingi taman ini, sampai akhirnya terlihat sosok tubuh
ramping yang tengah melambaikan tangannya ke arahku.
“Taeminnie Baby, disini!!” ucap Key hyung setengah
teriak. Aku tersenyum dan langsung menghampirinya. Tiba-tiba saja beberapa anak
kecil lewat pas di depan tubuhku. Aku yang akn melangkah pun kehilangan
keseimbanganan saat salah satu dari mereka menabrakku. Dan pada akhirnya… brruukkk…!
“ARGH!! Appo!!” Dengan mulusnya pantatku jatuh di
rumput taman ini. Sakitkah? Jelas jawabannya. Tapi sebentar, astaga kue Key
hyung!! Kuedarkan mataku keselilingku mencarinya, tapi yang kutemukan hanya
sepasang kaki yang berdiri pas disebelahku. Ku angkat wajahku untuk melihatnya.
“Gwaencanayo? Untunglah kuemu selamat” ucapnya.
Kulihat bingkisan kue Key hyung berada di tangannya. Wajahnya terkejut. Kurasa
dia masih shock setelah menangkap bingkisan kue itu pas sebelum terjatuh dari
tanganku.
“Aniyo, appo! Keunde, gomawo. Kau sudah menyelamatkan
kue ku.” Ujarku sambil mencoba berdiri. Tapi yang kurasakan pergelangan kakiku
sangat nyeri. Jadi kuputuskan untuk tetap duduk di rumput ini.
“Taeminnie?? Gwaencana? Aigoo kenapa bisa jatuh
begini? Kue ku? Mana kue ku? Ahh.. ternyata kau kodok. Gomawo kodok udah
menyelamatkan kue ku. Dan aigoo~ Taeminnie kenapa kau hanya diam saja? Cepat
berdiri! Ah tunggu, jam berapa sekarang? Aigoo~ Jinki baby pasti sudah dekat
sini. Aigoo eottokoe?? Ah,, kodok kau jaga Taeminnie baby, ne? sepertinya dia
terluka. Aku harus siap-siap menyambut Jinki baby. Arrachi? Gomawo kodok,,
Taeminnie!” yah aku dan orang ini hanya bisa melongo mendengar rentetan kata
yang tak ada hentinya dari Key hyung. Kulihat dia panik dengan persiapan kejutannya.
Terlihat dari cara berjalannya yang tergesa-gesa kembali ke tempat tadi saat
dia menyapaku. Dan pada akhirnya aku hanya bisa menggelengkan kepalaku pasrah
dengan sikapnya. Tiba-tiba orang ‘penyelamat kue’ berjongkok di depanku.
“Naiklah, kurasa kakimu terkilir saat jatuh tadi.”
Tebaknya tepat sasaran.
“Mwo? Gwaencana, tidak parah kok, aku masih bisa jalan
sendiri” ucapku gugup. Bagaimana tidak gugup, baru kusadari posisinya yang
walau membelakangiku, aku masih bisa melihat wajah tampannya yang baru kusadari
sangat dekat denganku.
“Gotjimal. Buktinya dari tadi kau tidak bangun dan
tetap duduk di rumput ini. Palli, sebelum aku berubah pikiran” ucapnya tajam
tapi entah darimana aku merasa adanya kelembutan dibaliknya.
“N.. Nnee..” pada akhirnya kata itu yang keluar dari
bibirku. Dan sampailah aku dipunggunggya. Dia menggendongku dengan mudahnya
seakan tubuhku sangat ringan baginya. Tanpa sadar kukalungkan tanganku di
lehernya serta mendekapnya. Nyaman…
“Jadi dimana rumahmu, eum, Taemin-ah?” tanyanya saat
dia mulai melangkahkan kakinya keluar dari taman itu.
“Ne? Ru..rumah..hh ku??” entah mengapa aku semakin
merasa gugup hanya karena dia yang menyebut namaku. Jika terdapat kaca, aku
yakin wajahku sudah berubah warna menjadi merah tomat.
“Ne rumahmu. Namamu Taemin kan? Tadi kudengar Key
memanggilmu dengan sebutan Taeminnie. Oh ya, namaku Minho, bukan kodok seperti
yang Key sebutkan tadi.” Jelasnya dengan menghela nafas panjang mengingat
ceramahan Key hyung tadi. Aku yang mendengarnya hanya terkekeh kecil.
“Ne, Taemin imnida. Bangapseumnida Minho hyung. J
rumahku ada di 3blok depan taman ini. Dari rumah Key hyung hanya selisih 2
rumah saja.” Ucapku yang berada di punggung pria yang ternyata bernama Minho
ini.
“Ne, bangapseumnida, Taeminnie…!” ucapnya sambil
tersenyum. Aku yang mendengarnya memanggilku seperti itu hanya bisa menundukkan
kepalaku. Malu dan mungkin bahagia.
-Flashback off-
***
Memori
itu lagi. Awal pertemuanku dengannya. Minho hyung, tahukah kamu saat itu aku
hamper mati karena malu? Kusunggingkan senyum tipis. Hhhhhh…. Kembali nafas
berat ku hembuskan. Hanya nafas? Ani.. Langkahku pun semakin kurasakan berat
melangkah. Aku masih menatapnya yang membelakangiku. Kuedarkan pandanganku ke
seluruh tubuhnya. Ahh… kamu tau? Walaupun dia membelakangiku, aku dapat
merasakan wajahnya yang sangat aku kagumi itu. Sempurna? Bisa dikatakan seperti
itu. HHhhhh… Pandanganku terhenti pada tangannya. Tangan kekar itu. Siapa
sangka akan melakukan hal yang sungguh diluar dugaan. Hanya aku yang tahu… I’m
traped in the past…
***
-Flashback On-
Taemin POV
“Annyeong, Taeminnie~” kulihat dia melangkah
menghampiriku. Errr.. Tampan..! blush! Dapat
kurasakan mukaku memanas memandangnya. Aigoo~
“Annyeong, hyung” ucapku sambil tersenyum malu.
Sudah sebulan ini aku dan Minho hyung akrab. Dan itu
karena jasa Key hyung. Ternyata Minho kuliah di kampus yang sama denganku. Tapi
mengapa aku tak pernah sekalipun tahu tentang dia? Molla.
“Taemin-ah, bisakah kamu menemaniku mencari kado yang
pas untuk ulang tahun eomma kun anti sore? Aku paling lemah jika berurusan
dengan yang namanya belanja!” ucapnya dengan wajah manyun setelah duduk di
sebelahku.
“Mwo? Nanti sore?”
“Nee Taeminnie..!! Waeyo? Tidak mau eum?” ucapnya
sambil mengacak rambutku. Kesal melihat rambutku sudah tak berbentuk, aku hanya
bisa mempoutkan bibirku kesal.
“Arraseo hyung. Aku temani. Tapi jam 4 eum? Aku masih
ada jam kuliah nanti sore.” Jelasku.
“Jinjja? Aigoo~ Gomawo!” dia memelukku. Tunggu..
Pelukan?
“YAA! Singkirkan tanganmu itu hyung!” ucapku sambil
melepas pelukannya serta menahan malu dan hanya dibalas dengan kekehannya.
Taemin POV end
***
Minho POV
Aish, sebentar lagi jam 4! Kenapa aku malah ketiduran
sih? Sepanjang jalan menuju tempat janjianku bertemu dengan Taemin hanya ku isi
dengan umpatanku. Bagaimana tidak kesal? Bisa-bisanya aku tertidur saat aku
sudah berjanji bertemu dengan namja cantik yang berhasil mengisi hatiku itu?
Cantik? Dia memang cantik. Melebihi apapun. Tidak normalkah diriku yang
menyukai sesame namja? Asal kalian tau, Taemin tidak sembarang namja. Dia
seperti bidadari yang transgender. Kecantikannya bahkan mengalahkan miss
universe. Gilakah aku? Terserah apa kata kalian.
Akhirnya aku sampai di taman ini. Pas jam 4. Syukurlah
aku tidak telat. Kuedarkan pandanganku ke sekitar taman. Sepertinya Taemin
belum datang. Tak apa, justru aku lebih senang jika dia tak perlu menungguku.
Tunggu, ini sudah lewat 20 menit aku menunggunya.
Kenapa dia belum datang? Tanpa kuduga, kepanikan mulai merasukiku. Berlebihan?
Tidak, aku tau sifat dia yang selalu tepat waktu itu. Kulirik jam tanganku
lagi. Bahkan ini sudah melewati 30 menit. “Taemin, kamu dimana?” gumamku.
Kuambil HPku dan bermaksud meneleponnya. *nomor yang
anda tuju sedang… klik,, segera kumatikan. Aneh, tidak biasanya nomornya tidak
aktif. Setelah kucoba beberapa kali, hasilnya tetap sama. Kulirik jam tanganku
lagi. Astaga ini sudah lewat 50 menit. Tak kupungkiri lagi aku gusar.
Kuputuskan untuk menuju kampus. Kampus kami tidak jauh dari sini. Karena itu
kami janjian bertemu disini.
***
Kampus sepertinya sepi. Jelas sepi, ini hari sabtu dan
jam kampus di hari ini hanya selesai sampai jam 4 sore. Kulangkahkan kakiku
menuju fakultas sastra tempat kuliah Taemin.
“Mmmfffttthhh.. Tooo..mmmfftttthhhh.. lemmmfftt …..
ppaaaammffttthh… bukkk”
Apa itu? Sepertinya aku mendengar sesuatu dibalik
gedung ini. Kutajamkan pendengaranku. Benar juga, suara gaduh itu semakin jelas
terdengar dari balik gedung. Sepertinya aku mengenal suara itu. Apa
jangan-jangan itu Taemin? Segera saja kupercepat langkahku ke asal suara itu.
Dan benar saja…
“YAAA!!!!!!!!! APA YANG SEDANG KALIAN LAKUKAN
BANGS*T!!!” teriakku.
Minho POV end
***
Author POV
Minho terbakar emosinya melihat tubuh Taemin yang bisa
dibilang sangat berantakan. Baju yang dipakainya robek disana sini. Muka putih
Taemin menjadi abstrak dengan memar biru yang hampir ada di setiap sisi
wajahnya. Buku yang berserakan dimana-mana. Yang yang paling membuat Minho
terbakar amarah, dia dengan jelas melihat air mata Taemin yang mengalir
membasahi wajahnya yang babak belur.
Segera saja Minho melayangkan tinjunya kepada
segerombolan pria yang menyerang mengerubungi Taemin itu. Kumpulan pria itu
memang telah membuat Taemin babak belur, tetapi mereka bukanlah tandingan
Minho. Minho dengan mudahnya menumbangkan 4 pria yang berada disana. Dan saat
itu juga Minho mengenali salah satu dari pria itu. Dia Park Jung Mo, mahasiswa
kampus tetangga yang diketahuinya merupakan saingan Taemin dalam lomba karya
novel seminggu sebelumnya dan dimenangkan oleh Taemin.
“Jangan pernah kau injakkan kaki kotormu di kampus ini
lagi atau kau terima hal yg lebih buruk dari ini.” Umpat Minho seraya
memberinya tinjuan tepat di hidung Jung Mo. “Cuihh!”
“M… min…n…hhoo.. hhyuu..nng…” isak Taemin melihat
Minho yang selesai menghajar semua pria yang telah membuatnya babak belur itu.
Minho berjongkok di depan Taemin yang sedang duduk
terkapar. Mata Minho memanas melihat keadaan Taemin saat ini. Setetes air
bening meleleh dari kedua matanya. Taemin yang melihat itu terkejut, dan
langsung menghapus halus air mata itu. Sedetik kemudian Minho memeluk tubuh
ringkih Taemin.
“Mianhae, aku terlambat datang. Jeongmal.. Mianhae
Taemin-ah” isak Minho disela tangisannya. Taemin yang mendengar itu pun ikut
menangis haru.
“Aniyo, hyung. Nan gwaenchana. Gomawo hyung.” Suara
Taemin bergetar, ia mengeratkan pelukannya di tubuh Minho.
“Tak akan kubiarkan siapapun menyakitimu lagi. Tak
akan kubiarkan. Tak akan.” Ucap Minho. Sesaat Minho melepaskan pelukannya dari
tubuh Taemin. Minho mengamati luka yang menghiasi wajah cantik Taemin.
“Luka ini, tak akan bisa menutupi keindahan wajahmu
Taemin.” Sedetik kemudian Minho mengecup satu persatu titik lupa yang terdapat di
wajah Taemin. Taemin hanya bisa membulatkan matanya. Perlakuan Minho sungguh
membuat Taemin tak dapat menahan rona merah di pipinya. Minho yang menyadari
itu, menatap dalam mata Taemin.
“Saranghae…”
Minho menutup kedua matanya dan mendekatkan wajahnya
ke wajah Taemin. Taemin hanya bisa mengikuti tindakan Minho. Tak dapat
dipungkiri, Taemin menyukai Minho sejak pertama ia bertemu dengannya. Semakin
dekat wajah mereka berdua, Taemin akhirnya menutup kedua matanya. Menghapus
jarak antara wajah mereka, bibir Minho dengan lembut mengecup bibir kissable
Taemin. Hanya kecupan ringan yang terjadi. Tanpa ada tuntutan lebih. Tangan
Minho masih setia menggenggam tangan Taemin. Dapat Taemin rasakan tangan itu
berdarah. Mungkin akibat Minho menghajar 4 orang sekaligus.
“Nado saranghae, hyung” ucap Taemin disela-sela ciuman
mereka.
-Flashback Off-
***
Tersenyum
mengingat semua itu. Hyung, taukah kamu? Hari itu aku memang terluka parah,
tetapi dengan mudahnya kau sembuhkan luka itu dengan kelembutan hatimu. Hyung,
jeongmal saranghae.
Aku
masih melangkahkan kakiku ke arahnya. Jarak kami masih terasa jauh. Dia
berbalik. Kulihat dia menatapku. Mata itu… Jebal, jangan tatap aku seperti itu.
Aku tak sanggup melihatnya. Kutundukan wajahku. Aku tak bisa melihat tatapan
itu.
Gwaencana… Taemin.. ‘dia’ menepuk genggaman tanganku yang sedari tadi ku taruh di lengannya.
Segera ku eratkan genggamanku pada’nya’. Tataplah dia… Dia melihat kita
saat ini… ucapnya. Kuberanikan menatap
mata itu lagi. Benar, dia sedang menatapku dan yang sedang disebelahku dengan
tajamnya. Hyung… Mianhae… I’m traped with him…
***
-Flashback On-
“Chagi..!!” Teriak Minho membuyarkan konsentrasi
Taemin.
“Hyung! Jangan mengagetkanku. Jebalyo, aku sedang
mengerjakan tugas kuliahku.” Kesal Taemin memasang deathglare ke Minho. Minho
merasa tidak terima dengan reaksi Taemin, langsung menutup buku yang sedang
dibaca Taemin.
“YAA HYUNG!! AISSH,, Aku belum memberi pembatas buku
pada halaman tadi!” Taemin kesal melihat buku yang dibacanya tertutup rapat.
Saat Taemin mencoba membuka kembali, Minho segera merebutnya.
“YA! Sudah kubilang, panggil aku CHAGI..!! Aish kau
mengacuhkanku demi buku itu dari 3 hari yang lalu Taeminnie!! Apa kau lupa
kemarin sebenarnya anniversary hubungan kita yang pertama. YAA! Setahun itu
tidak sebentar! Dan kamu hanya menggunakan hari itu dengan mengacuhkanku?” ucap
Minho kesal.
“Hyung, sejak kapan hyung tertular penyakit cerewet
Key hyung?” ucap Taemin polos. Taemin akhir-akhir ini memang lebih sering
konsentrasi pada tugasnya yang menumpuk. Merasa tak diabaikan, Minho pun
beranjak pergi. Taemin hanya menghela nafas melihat kekasihnya seperti itu.
Diambilnya HP dari tasnya, dan mengetik pesan.
My
lovely froggie, mianhae eum? Tugasku sangat banyak.
Nanti
sore aku tunggu di rumah. Akan kumasakan makanan faforitmu. Yakseok!! <3
Taemin kembali meneruskan membaca buku tugasnya itu
sampai HPnya bergetar kembali. Dibukanya pesan yang masuk.
Masakan
aku daging ayam!! Kalo tidak, aku akan memakanmu sebagi gantinya.!
Taemin tersenyum membacanya. “Aigoo~ tampaknya aku
harus belanja terlebih dahulu” pekiknya.
***
Taemin sibuk dengan kerjaannya di dapur. Sesuai dengan
pesanan kekasihnya, Minho, dia harus memasak ayam saat ini. Bukan masalah besar
karena memang Taemin mempunyai keahlian memasak.
Ting tong…
Taemin menghentikan pekerjaannya sebentar. “Tidak
seperti biasanya hyung menekan bell. Apa ini karena dia masih marah padaku?
Aigoo~” eluh Taemin sambil pergi membukakan pintu apartemennya. Sebenarnya
Minho tau password apartemen Taemin, karna itu Taemin jadi bingung, biasanya
Minho akan langsung masuk tanpa menekan bell. Taemin membukakan pintu
apartemennya dan melihat sosok pria di depannya sambil membawa seikat bunga.
“Taemin.. Lama tidak jumpa..” wajahnya pucat, tapi
Taemin sangat hafal dengan pria yang sedang berada di hadapannya ini.
“K..kkaii..? Kau kembali?” ucap Taemin tak percaya.
“Nee, aku kembali Taeminnie. Bogoshippoyo nae
Taeminnie” Senyuman pahit tampak di wajah pucat pria yang bernama Kai tersebut.
Taemin berdiri kaku menatapnya.
“Kaiiii……!!!” teriak Taemin sambil memeluk Kai yang
tampak terkejut melihat reaksi Taemin. Sedetik kemudian Kai mempererat
pelukannya di tubuh Taemin. Keduanya tampak menangis di pelukan masing-masing.
“Haruskah aku melihat pemandangan ini?” tiba-tiba
Minho berdiri di belakang Taemin dan Kai yang tampak terkejut akan hadirnya
Minho.
Taemin segera melepaskan pelukannya pada Kai dan
mengusap kasar air mata yang sempat mengalir di kedua matanya. Tapi itu masih
dapat terlihat oleh Minho.
“Siapa dia chagiya?” ucap Minh. Taemin terdiam.
Tubuhnya kaku. Minho mengamati sikap Taemin yang bergetar itu. Taemin
mati-matian menahan isakan yang mendesak ingin keluar. Minho memperhatikan Kai
yang berdiri disebelah Taeminnya. Sampai akhirnya Minho menyadari bekas luka di
telapak tangan Kai.
“Jadi kamu orang yang menyelamatkan nyawa Taemin waktu
kecil?” selidik Minho. Ya Minho tau, masa kecil Taemin. Taemin hampir mati
tertabrak mobil saat bermain dengan Kai di pinggir jalan. Saat itu keduanya
berumur 4 tahun. Tapi Kai seakan mengerti bahaya yang akan diterima Taemin,
langsung mendorong Taemin sehingga tubuhnya yang tertabrak mobil, bahkan hingga
dua kali karena saat tertabrak pertama, tubuhnya terpental dan tertabrak mobil
dari arah lawan. Dan luka di tangannya adalah bukti nyata saat mobil lain itu
tak sengaja melindas tangan kecilnya.
Kai tersenyum pada Minho yang menyadari jati dirinya.
“Ne, namaku Kai.”
“Jadi dia cinta pertamamu, Taemin-ah?” Taemin
tersentak. Minho tak menyebutnya chagiya lagi. Hanya satu hal yang dapat
menyebabkan itu, Minho sedang tidak dalam kondisi emosi yang baik pada Taemin.
Taemin semakin menundukkan kepalanya. Bahunya semakin bergetar. Kai menyadari
keadaan aneh Taemin, segera memeluk bahunya. Minho yang melihatnya sangat ingin
menghajar Kai, berani-beraninys dia menyentuh Taeminnya. Tapi dia tidak bisa.
Kai yang membuat Taemin masih hidup sampai sekarang. Minho hanya bisa
mengepalkan tangannya kuat menahan amarah yang sudah membuncah dihatinya.
“Apa kamu kekasih Taemin? Bisakah aku meminjamnya
sebentar? Aku janji tidak akan lama.” Ucap Kai sambil tersenyum kearah Minho.
Minho terdiam. Dia tidak rela melihat Taeminnya
bersama pria lain, tapi pria itulah yang membuat nyawa Taemin masih berada
ditubuh Taemin. Bibirnya kaku, dia ingin sekali melarang Kai. Hanya tatapan
mata yang mengisyaratkan bahwa Minho tak ingin Kai membawa Taemin.
Kai sepertinya sadar ketidaksukaan Minho terhadapnya.
Dia hanya tersenyum dan membungkuk memberi salam kepada Minho. Sedetik kemudian
dia melangkah pergi, tetapi Taemin menahannya. Kai maupun Minho terkejut dengan
reaksi Taemin.
“Aku pergi denganmu.” Lirih Taemin yang langsung
menarik Kai pergi dari Minho meninggalkan apartemennya.
“Dia
cinta pertamaku, hyung. Dia yang membuatku hidup. Tapi aku menghancurkan
hidupnya. Setelah kecelakaan itu, dia divonis memiliki semacam penyakit aneh. Sistem
imun tubuhnya hancur. Setiap hari dia mengigil kedinginan. Dia tidak dapat
tinggal di negara dingin. Dia pergi setelahnya. Hyung, andai aku diberi kesempatan,
aku akan mengabulkan apapun keinginannya. Apapun itu, karena dia, aku masih
hidup dan akhirnya bertemu denganmu hyung.”
“Apapun…?” gumam Minho saat teingat perkataan Taemin
dulu. Setetes air mata meleleh menuruni pipi Minho.
***
Sudah 3 hari dari saat terakhir Minho bertemu dengan
Kai. Dan sudah 3 hari pula Minho tidak melihat Taemin di kampus. Tidak juga di
apartemennya.
“Ya kodok, kenapa sendirian aja? Mana Taemin?” tegur
Jinki saat melihat Minho yang sendirian di sebuah café.
Minho tidak merespon Jinki dan tetap sibuk menatap
layar HPnya. Wajah Taemin menghiasi wallpaper HP Minho. Jinki hanya
menghembuskan nafas kesal melihatnya. Jinki baru saja duduk di sebelah Minho
sampai sedetik kemudian muncul Key, kekasih Jinki, teman Minho juga berlari kearahnya.
“Hosshh.. YAA! KODOK..!! Hosshh..!” Ucap Key abstrak
antara kesal atau kelelahan berlari.
“YAA! Apaan sih? Datang-datang bikin rusuh!” sentak
Minho kesal. Langsung saja Key meninju kepala Minho. Blettakk!
“YAA! APPO!!!” dengus Minho sambil mengelus pucuk
kepalanya.
“Suruh sapa ngejek gua? Liat tuh!” Key langsung
menunjuk arah luar Café.
“Awalnya aku aneh dengan dua orang itu, sekarang musim
panas, diluar panas banget, tapi dua orang itu malah duduk tepat dibawah sinar
matahari. Sampai kuperhatikan, bukannya itu Taemin Baby? See? Dengan siapa dia?
Hey… YA KODOK!” Minho tidak peduli dengan ucapan Key. Matanya fokus melihat dua
orang yang sedang tertawa lepas itu. Taemin dan Kai.
Sedetik kemudian Minho berdiri dan hendak keluar dari
café. Key serta Jinki sontak mengejar Minho yg berjalan kea rah pintu café.
“YA! KODOK JELEK..! Mau kemana HAAH??!!” teriak Key
keras. Sontak semua orang yang berada di café maupun luar café melihat kearah
mereka. Benar saja, Key, Jinki maupun Minho pas berada di pintu café saat ini.
Tak bisa dipungkiri suara Key saat ini sangat terdengar sampai radius yang
cukup jauh. Dan cukup sampai ke telinga Taemin dan Kai. Sontak Minho dan Taemin
bertemu pandang. Sejenak mereka terdiam dengan tatapan yang masih melekat satu
sama lain.
“A.. Apa yang terjadi sebenarnya?” ucap Key bingung
melihat tingkah Minho. Tapi Minho seolah tuli dan hanya menatap Taemin sendu.
Jadi
inilah pilihanmu, Taemin. Baiklah, aku pergi. Berbahagialah. Tanpa
suara, hanya gerakan bibir dari Minho. Tapi cukup jelas di mata Taemin. Tatapan
Minho sedetik kemudian berubah kasar. Dia membuang muka dan pergi meninggalkan
Taemin dan Kai yang sebenarnya memang berjarak berjauhan dengan Minho.
-Flashback Off-
***
Masih
dapat kulihat jelas tatapan tajam itu. Hhhh… Minho hyung, hentikan tatapanmu..
jebal… kutatap wajah orang yang sedang bersama denganku. Dia tersenyum.
Kusunggingkan senyum hambarku padanya. Dia hanya terkekeh kecil melihatku.
Melihatnya tertawa, tak kusadari akupun terkekeh dengannya. Kai. Kamu memang
selalu membuatnku merasa aman. Kuedarkan pandanganku kesekelilingku.
Orang-orang berpakaian resmi itu tersenyum kearahku dan Kai. Tampak Key hyung
dan Jinki hyung melambai ke arahku dan Kai. Kubalas mereka dengan anggukan
kecil dan senyuman. Kusunggingkan senyumku pada semua yang saat ini berada di
samping kanan kiriku dan Kai sesaat dan kembali menatap pria disebelahku. Kai
yang masih tersenyum padaku.
Dan
sampai saat ini, aku masih tetap melangkah padanya. Tatapannya berubah sendu.
Hyung, ini memang pilihanku… I’m traped in my choice…
***
-Flashback
On-
Author POV
“Taem, gwaenchana?” ucap Kai membuyarkan lamuanan
Taemin. Taemin menatap Kai sambil tersenyum. Terkesan dipaksakan.
“Gwaenchana kkamjong.” Ucap Taemin sambil terkekeh.
“YA! Berhentilah memanggilku dengan sebutan itu! Apa
aku sehitam itu?” Kai mempoutkan bibirnya mendengar panggilan Kkamjong yang
ditujukan padanya oleh Taemin.
“Ne, sekarang kulitmu hitam! Hahaha.. padahal dulu kau
begitu putih..”
“YA! Diamlah!!!” teriak kesal Kai. Namun yang ada
Taemin masih setia tertawa melihat Kai yang kembali kesal.
“Kau tau, di tempatku aku masih putih dibanding orang
sama. Kulitmu saja yang terlalu putih seperti perempuan Taemin noona!” sontak
Taemin kesal dan melihat kulitnya sendiri.
“YAA! Aku namja! Dan kulitku normal sebagai namja! Kau
tau??!!” teriak Taemin kesal sambil memukul tangan Kai yang berganti tertawa
sekarang.
“Setidaknya tenaga pukulanmu lebih dari seorang
yeoja.. Aiisshh” Kai mengelus bekas pukulas Taemin yang dirasakan sedikit
terasa nyilu. Taemin kembali tertawa karenanya. Kai menatap intens Taemin yang
sedang tertawa.
“Aku akan kembali besok siang, Taem.” Ucap Kai
tiba-tiba pada Taemin yang sukses membuat tawa Taemin lenyap.
“Mworago?” Taemin sangat terkejut dan membulatkan
matanya lebar. Kai tersenyum dan mengelus pucuk kepala Taemin.
“Aku akan pulang besok. Hari ini hari terakhirku di
Seoul. Dan aku rasa, hari ini hari terakhirmu untuk berpura-pura padanya.” Ujar
Kai pada Taemin. Taemin tidak mengerti maksud Kai hanya bisa menatap Kai
bingung.
“Aku tau, aku cinta pertamamu. Dan asal kamu tau,
Taemin juga cinta pertamaku. Tapi Taemin yang sekarang mencintai orang lain.
bukan cinta pertamanya lagi.” Jelas Kai sambil senyum yang selalu mengembang
dibibirnya.
“A..app.pa.. maksu..ud mu..?” ujar Taemin bergetar,
entah mengapa perakataan Kai sangat pas mengenai perasaan Taemin. Kai tersenyum
kembali mengelus pucuk kepala Taemin.
“Saat kita tadi tidak sengaja bertemu Minho, kamu
tidak melepaskan pandanganmu sedikitpun darinya walaupun dia berbalik dan
menghilang. Saat itu tanpa kau sadari, kau menggenggam tanganku erat sekali.
Seakan kau menahan sakit saat dia pergi. Dan sejak itu tawamu menghilang dan
kau sering melamun.” Jelas Kai. Taemin dengan cepat menggelengkan kepalanya.
“Aniyo, bukan seperti itu.. Aku..”
“Berhentilah berusaha membalas budi atas kejadian masa
lalu kita, Taeminnie~” ucap Kai cepat memotong perkataan Taemin. Taemin
terperangah. Tetes air matanya pun lolos membasahi pipinya.
“Uljima, dulu aku tulus menyelamatkanmu. Bukan seperti
ini. Aku sama sekali tidak menginginkan balas budimu Taem. Aku mencintaimu.
Sungguh. Tapi aku tahu kebahagiaanmu ada padanya. Maka aku tulus membiarkanmu
bersamanya.” Ucap Kai seraya memeluk tubuh mungil Taemin.
Tangis Taemin pun pecah dalam pelukan Kai. Kai hanya
bisa mengelus punggung itu memberikan ketenangan pada Taemin.
“Saranghae…”
-Flashback Off-
***
Hyung,,
ini pilihanku. Aku memilihmu dari cinta pertamaku. Hyung, kamu kebahagiaanku
saat ini.
Jarak
antara kita semakin menipis. Hhhhh… Ku tatap wajah Kai, lagi. Dia tersenyum
padaku, dan tatapannya berbalik ke Minho hyung yang tanpa terasa sudah berada
pas di depan kami. Kai tersenyum padanya.
“Yaaa! Aku jauh-jauh datang kesini, bukan untuk
melihat tatapan sendu kalian padaku.” Ucap
Kai pada Minho hyung. Kai tersenyum sesaat padaku.
“Sudah waktunya, pergilah…” Kai kembali tersenyum padaku. Diambilnya tanganku dari lengannya dan
diserahkannya ke tangan Minho hyung yang siap menerima tanganku.
“Berbahagialah…” ucapnya
sebelum berbalik arah meninggalkan kami. Kami masih setia menatap punggungnya
sampai dia membalikkan badannya dan duduk di bangku barisan depan bersama Key
hyung dan Jinki hyung.
Kualihkan
pandanganku dari Kai. Kini aku menatapnya yang sedang menatapku. Minho hyung.
Aku tersenyum. Dan diapun tersenyum hangat padaku sesaat.
“Haruskah kalian berjalan sangat lama? Jangan
membuatku cemburu padamu disaat acara pernikahan kita ini Chagiya!” bisiknya dengan bibirnya yang sengaja ia
poud kan. Aku terkekeh kecil mendengarnya. Hei, bagaimana bisa dia masih
cemburu di acara pernikahan kami?
“Saranghae..” ucapku.
Kulihat senyumnya kembali mengembang.
“Nado,, saranghae…”
balasnya. Dan pada akhirnya kami berbalik menatap sesosok pria yang sudah siap
akan memandu acara mengikraran janji setia seumur hidupku dan Minho hyung. I’m
traped love of you…
-END-
