Wednesday, July 24, 2013

I'm Traped with You

Title                        : I’m Traped
Cast                        : 2MIN
Support Cast         : Lee Jinki, Kim Keybum, Kim Jong In
Genre                     : Romance
Leight                     : Oneshoot (3733 kata)
Author                    : T.Y.M Yuhannie


Summary : 
Aku menemukanmu yang selalu saja menjadi malaikat di kehidupanku,, saat aku terpuruk dirimu selalu mengkuatkanku.. Hadirmu membuat hidupku berwarna.. Tetapi aku terperangkap pada janji masa lalu dengannya.. Janji yang akan kulakukan demi dia.. Apapun itu... Dan kini janji itu harus kupenuhi.. I'm trapped..


Annyeong...!! ^^ #BOWED..
Readers, ini aq share lagi FF 2min asli buatan sendiri..!! Jangan tanya genre karna author hanya bergenre YAOI..!! No Straight,, No SG..!! Hahaha...
Happy Reading,, and Don't Be Silent Reader!! ^^

---------------------------------------------------------------------------------------------


Kulangkahkan kakiku sepelan mungkin. Takut? Mungkin bisa dikatakan begitu. Tak kuangkat sedikitpun wajahku ke depan, menunduk. Ragu? Molla, aku pun tak tahu apa yang kurasakan saat ini. Semakin pelan langkahku kurasakan. Hhhhhh… nafasku berat. Dan pada akhirnya kuberanikan wajahku melihat kedepan. Ah.. sosok itu berdiri jauh di depanku. Terasa jauh. Tapi dapat kulihat jelas punggung itu berdiri dengan tegapnya. Bahu kekar itu. Seakan masih bisa kurasakan. I’m traped in your arms..

***
-Flashback On-

Taemin POV

“Ne, Omma. Kue ulang tahunnya sudah ku ambil, ini masih baru keluar dari toko kue. Ne, omma jangan khawatir, 10 menit lagi aq sampai disana. PIP” Aissh.. Key hyung emang bawel. Harusnya kan bukan aq yang harus mengambil kue ulang tahun namjachingunya itu. Menyebalkan.

Bisakah aq sampai tepat waktu ke taman dengan waktu 10 menit ini? Aishh.. lihat saja nanti kalo aku masih kena omelannya, tak akan ku bantu lagi kau Hyung! Batinku. Dengan tergesa-gesa kulangkahkan kaki ini menuju taman tempat Key hyung ingin memberi surprise party buat namjachingunya itu. Lari? Tidak mungkin, bisa-bisa kuenya jatuh. Dengan langkah cepat kulewati gedung-gedung sepanjang jalan ini. Mata semua orang memang memandangku aneh. Bayangkan saja dengan tubuh kecilku ini, aku membawa bingkisan besar yang berisi kue ulang tahun 2 tingkat juga berjalan tergesa-gesa. Tapi apa boleh buat, daripada aku terkena omelan Key hyung yang terkenal dengan mulut pedasnya itu, aku rela berjalan dengan muka yang nyaris memerah karena malu ini.

Ahh sampai juga.. Fiiuuhh,, untunglah pas 10 menit. Eum,, Key hyung dimana sih?? Kuedarkan pandanganku mengelilingi taman ini, sampai akhirnya terlihat sosok tubuh ramping yang tengah melambaikan tangannya ke arahku.

“Taeminnie Baby, disini!!” ucap Key hyung setengah teriak. Aku tersenyum dan langsung menghampirinya. Tiba-tiba saja beberapa anak kecil lewat pas di depan tubuhku. Aku yang akn melangkah pun kehilangan keseimbanganan saat salah satu dari mereka menabrakku. Dan pada akhirnya… brruukkk…!

“ARGH!! Appo!!” Dengan mulusnya pantatku jatuh di rumput taman ini. Sakitkah? Jelas jawabannya. Tapi sebentar, astaga kue Key hyung!! Kuedarkan mataku keselilingku mencarinya, tapi yang kutemukan hanya sepasang kaki yang berdiri pas disebelahku. Ku angkat wajahku untuk melihatnya.

“Gwaencanayo? Untunglah kuemu selamat” ucapnya. Kulihat bingkisan kue Key hyung berada di tangannya. Wajahnya terkejut. Kurasa dia masih shock setelah menangkap bingkisan kue itu pas sebelum terjatuh dari tanganku.

“Aniyo, appo! Keunde, gomawo. Kau sudah menyelamatkan kue ku.” Ujarku sambil mencoba berdiri. Tapi yang kurasakan pergelangan kakiku sangat nyeri. Jadi kuputuskan untuk tetap duduk di rumput ini.

“Taeminnie?? Gwaencana? Aigoo kenapa bisa jatuh begini? Kue ku? Mana kue ku? Ahh.. ternyata kau kodok. Gomawo kodok udah menyelamatkan kue ku. Dan aigoo~ Taeminnie kenapa kau hanya diam saja? Cepat berdiri! Ah tunggu, jam berapa sekarang? Aigoo~ Jinki baby pasti sudah dekat sini. Aigoo eottokoe?? Ah,, kodok kau jaga Taeminnie baby, ne? sepertinya dia terluka. Aku harus siap-siap menyambut Jinki baby. Arrachi? Gomawo kodok,, Taeminnie!” yah aku dan orang ini hanya bisa melongo mendengar rentetan kata yang tak ada hentinya dari Key hyung. Kulihat dia panik dengan persiapan kejutannya. Terlihat dari cara berjalannya yang tergesa-gesa kembali ke tempat tadi saat dia menyapaku. Dan pada akhirnya aku hanya bisa menggelengkan kepalaku pasrah dengan sikapnya. Tiba-tiba orang ‘penyelamat kue’ berjongkok di depanku.

“Naiklah, kurasa kakimu terkilir saat jatuh tadi.” Tebaknya tepat sasaran.

“Mwo? Gwaencana, tidak parah kok, aku masih bisa jalan sendiri” ucapku gugup. Bagaimana tidak gugup, baru kusadari posisinya yang walau membelakangiku, aku masih bisa melihat wajah tampannya yang baru kusadari sangat dekat denganku.

“Gotjimal. Buktinya dari tadi kau tidak bangun dan tetap duduk di rumput ini. Palli, sebelum aku berubah pikiran” ucapnya tajam tapi entah darimana aku merasa adanya kelembutan dibaliknya.

“N.. Nnee..” pada akhirnya kata itu yang keluar dari bibirku. Dan sampailah aku dipunggunggya. Dia menggendongku dengan mudahnya seakan tubuhku sangat ringan baginya. Tanpa sadar kukalungkan tanganku di lehernya serta mendekapnya. Nyaman…

“Jadi dimana rumahmu, eum, Taemin-ah?” tanyanya saat dia mulai melangkahkan kakinya keluar dari taman itu.

“Ne? Ru..rumah..hh ku??” entah mengapa aku semakin merasa gugup hanya karena dia yang menyebut namaku. Jika terdapat kaca, aku yakin wajahku sudah berubah warna menjadi merah tomat.

“Ne rumahmu. Namamu Taemin kan? Tadi kudengar Key memanggilmu dengan sebutan Taeminnie. Oh ya, namaku Minho, bukan kodok seperti yang Key sebutkan tadi.” Jelasnya dengan menghela nafas panjang mengingat ceramahan Key hyung tadi. Aku yang mendengarnya hanya terkekeh kecil.

“Ne, Taemin imnida. Bangapseumnida Minho hyung. J rumahku ada di 3blok depan taman ini. Dari rumah Key hyung hanya selisih 2 rumah saja.” Ucapku yang berada di punggung pria yang ternyata bernama Minho ini.

“Ne, bangapseumnida, Taeminnie…!” ucapnya sambil tersenyum. Aku yang mendengarnya memanggilku seperti itu hanya bisa menundukkan kepalaku. Malu dan mungkin bahagia.

-Flashback off-
***

Memori itu lagi. Awal pertemuanku dengannya. Minho hyung, tahukah kamu saat itu aku hamper mati karena malu? Kusunggingkan senyum tipis. Hhhhhh…. Kembali nafas berat ku hembuskan. Hanya nafas? Ani.. Langkahku pun semakin kurasakan berat melangkah. Aku masih menatapnya yang membelakangiku. Kuedarkan pandanganku ke seluruh tubuhnya. Ahh… kamu tau? Walaupun dia membelakangiku, aku dapat merasakan wajahnya yang sangat aku kagumi itu. Sempurna? Bisa dikatakan seperti itu. HHhhhh… Pandanganku terhenti pada tangannya. Tangan kekar itu. Siapa sangka akan melakukan hal yang sungguh diluar dugaan. Hanya aku yang tahu… I’m traped in the past…

***
-Flashback On-
Taemin POV
“Annyeong, Taeminnie~” kulihat dia melangkah menghampiriku. Errr.. Tampan..! blush! Dapat kurasakan mukaku memanas memandangnya. Aigoo~

“Annyeong, hyung” ucapku sambil tersenyum malu.
Sudah sebulan ini aku dan Minho hyung akrab. Dan itu karena jasa Key hyung. Ternyata Minho kuliah di kampus yang sama denganku. Tapi mengapa aku tak pernah sekalipun tahu tentang dia? Molla.

“Taemin-ah, bisakah kamu menemaniku mencari kado yang pas untuk ulang tahun eomma kun anti sore? Aku paling lemah jika berurusan dengan yang namanya belanja!” ucapnya dengan wajah manyun setelah duduk di sebelahku.

“Mwo? Nanti sore?”

“Nee Taeminnie..!! Waeyo? Tidak mau eum?” ucapnya sambil mengacak rambutku. Kesal melihat rambutku sudah tak berbentuk, aku hanya bisa mempoutkan bibirku kesal.

“Arraseo hyung. Aku temani. Tapi jam 4 eum? Aku masih ada jam kuliah nanti sore.” Jelasku.

“Jinjja? Aigoo~ Gomawo!” dia memelukku. Tunggu.. Pelukan?

“YAA! Singkirkan tanganmu itu hyung!” ucapku sambil melepas pelukannya serta menahan malu dan hanya dibalas dengan kekehannya.

Taemin POV end
***
Minho POV

Aish, sebentar lagi jam 4! Kenapa aku malah ketiduran sih? Sepanjang jalan menuju tempat janjianku bertemu dengan Taemin hanya ku isi dengan umpatanku. Bagaimana tidak kesal? Bisa-bisanya aku tertidur saat aku sudah berjanji bertemu dengan namja cantik yang berhasil mengisi hatiku itu? Cantik? Dia memang cantik. Melebihi apapun. Tidak normalkah diriku yang menyukai sesame namja? Asal kalian tau, Taemin tidak sembarang namja. Dia seperti bidadari yang transgender. Kecantikannya bahkan mengalahkan miss universe. Gilakah aku? Terserah apa kata kalian.

Akhirnya aku sampai di taman ini. Pas jam 4. Syukurlah aku tidak telat. Kuedarkan pandanganku ke sekitar taman. Sepertinya Taemin belum datang. Tak apa, justru aku lebih senang jika dia tak perlu menungguku.

Tunggu, ini sudah lewat 20 menit aku menunggunya. Kenapa dia belum datang? Tanpa kuduga, kepanikan mulai merasukiku. Berlebihan? Tidak, aku tau sifat dia yang selalu tepat waktu itu. Kulirik jam tanganku lagi. Bahkan ini sudah melewati 30 menit. “Taemin, kamu dimana?” gumamku.

Kuambil HPku dan bermaksud meneleponnya. *nomor yang anda tuju sedang… klik,, segera kumatikan. Aneh, tidak biasanya nomornya tidak aktif. Setelah kucoba beberapa kali, hasilnya tetap sama. Kulirik jam tanganku lagi. Astaga ini sudah lewat 50 menit. Tak kupungkiri lagi aku gusar. Kuputuskan untuk menuju kampus. Kampus kami tidak jauh dari sini. Karena itu kami janjian bertemu disini.
***
Kampus sepertinya sepi. Jelas sepi, ini hari sabtu dan jam kampus di hari ini hanya selesai sampai jam 4 sore. Kulangkahkan kakiku menuju fakultas sastra tempat kuliah Taemin.

“Mmmfffttthhh.. Tooo..mmmfftttthhhh.. lemmmfftt ….. ppaaaammffttthh… bukkk

Apa itu? Sepertinya aku mendengar sesuatu dibalik gedung ini. Kutajamkan pendengaranku. Benar juga, suara gaduh itu semakin jelas terdengar dari balik gedung. Sepertinya aku mengenal suara itu. Apa jangan-jangan itu Taemin? Segera saja kupercepat langkahku ke asal suara itu. Dan benar saja…

“YAAA!!!!!!!!! APA YANG SEDANG KALIAN LAKUKAN BANGS*T!!!” teriakku.

Minho POV end
***
Author POV

Minho terbakar emosinya melihat tubuh Taemin yang bisa dibilang sangat berantakan. Baju yang dipakainya robek disana sini. Muka putih Taemin menjadi abstrak dengan memar biru yang hampir ada di setiap sisi wajahnya. Buku yang berserakan dimana-mana. Yang yang paling membuat Minho terbakar amarah, dia dengan jelas melihat air mata Taemin yang mengalir membasahi wajahnya yang babak belur.

Segera saja Minho melayangkan tinjunya kepada segerombolan pria yang menyerang mengerubungi Taemin itu. Kumpulan pria itu memang telah membuat Taemin babak belur, tetapi mereka bukanlah tandingan Minho. Minho dengan mudahnya menumbangkan 4 pria yang berada disana. Dan saat itu juga Minho mengenali salah satu dari pria itu. Dia Park Jung Mo, mahasiswa kampus tetangga yang diketahuinya merupakan saingan Taemin dalam lomba karya novel seminggu sebelumnya dan dimenangkan oleh Taemin.

“Jangan pernah kau injakkan kaki kotormu di kampus ini lagi atau kau terima hal yg lebih buruk dari ini.” Umpat Minho seraya memberinya tinjuan tepat di hidung Jung Mo. “Cuihh!”

“M… min…n…hhoo.. hhyuu..nng…” isak Taemin melihat Minho yang selesai menghajar semua pria yang telah membuatnya babak belur itu.

Minho berjongkok di depan Taemin yang sedang duduk terkapar. Mata Minho memanas melihat keadaan Taemin saat ini. Setetes air bening meleleh dari kedua matanya. Taemin yang melihat itu terkejut, dan langsung menghapus halus air mata itu. Sedetik kemudian Minho memeluk tubuh ringkih Taemin.

“Mianhae, aku terlambat datang. Jeongmal.. Mianhae Taemin-ah” isak Minho disela tangisannya. Taemin yang mendengar itu pun ikut menangis haru.

“Aniyo, hyung. Nan gwaenchana. Gomawo hyung.” Suara Taemin bergetar, ia mengeratkan pelukannya di tubuh Minho.

“Tak akan kubiarkan siapapun menyakitimu lagi. Tak akan kubiarkan. Tak akan.” Ucap Minho. Sesaat Minho melepaskan pelukannya dari tubuh Taemin. Minho mengamati luka yang menghiasi wajah cantik Taemin.

“Luka ini, tak akan bisa menutupi keindahan wajahmu Taemin.” Sedetik kemudian Minho mengecup satu persatu titik lupa yang terdapat di wajah Taemin. Taemin hanya bisa membulatkan matanya. Perlakuan Minho sungguh membuat Taemin tak dapat menahan rona merah di pipinya. Minho yang menyadari itu, menatap dalam mata Taemin.

“Saranghae…”

Minho menutup kedua matanya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Taemin. Taemin hanya bisa mengikuti tindakan Minho. Tak dapat dipungkiri, Taemin menyukai Minho sejak pertama ia bertemu dengannya. Semakin dekat wajah mereka berdua, Taemin akhirnya menutup kedua matanya. Menghapus jarak antara wajah mereka, bibir Minho dengan lembut mengecup bibir kissable Taemin. Hanya kecupan ringan yang terjadi. Tanpa ada tuntutan lebih. Tangan Minho masih setia menggenggam tangan Taemin. Dapat Taemin rasakan tangan itu berdarah. Mungkin akibat Minho menghajar 4 orang sekaligus.

“Nado saranghae, hyung” ucap Taemin disela-sela ciuman mereka.

-Flashback Off-
***

Tersenyum mengingat semua itu. Hyung, taukah kamu? Hari itu aku memang terluka parah, tetapi dengan mudahnya kau sembuhkan luka itu dengan kelembutan hatimu. Hyung, jeongmal saranghae.
Aku masih melangkahkan kakiku ke arahnya. Jarak kami masih terasa jauh. Dia berbalik. Kulihat dia menatapku. Mata itu… Jebal, jangan tatap aku seperti itu. Aku tak sanggup melihatnya. Kutundukan wajahku. Aku tak bisa melihat tatapan itu.
Gwaencana… Taemin.. ‘dia’ menepuk genggaman tanganku yang sedari tadi ku taruh di lengannya. Segera ku eratkan genggamanku pada’nya’. Tataplah dia… Dia melihat kita saat ini… ucapnya. Kuberanikan menatap mata itu lagi. Benar, dia sedang menatapku dan yang sedang disebelahku dengan tajamnya. Hyung… Mianhae… I’m traped with him…

***
-Flashback On-

“Chagi..!!” Teriak Minho membuyarkan konsentrasi Taemin.

“Hyung! Jangan mengagetkanku. Jebalyo, aku sedang mengerjakan tugas kuliahku.” Kesal Taemin memasang deathglare ke Minho. Minho merasa tidak terima dengan reaksi Taemin, langsung menutup buku yang sedang dibaca Taemin.

“YAA HYUNG!! AISSH,, Aku belum memberi pembatas buku pada halaman tadi!” Taemin kesal melihat buku yang dibacanya tertutup rapat. Saat Taemin mencoba membuka kembali, Minho segera merebutnya.

“YA! Sudah kubilang, panggil aku CHAGI..!! Aish kau mengacuhkanku demi buku itu dari 3 hari yang lalu Taeminnie!! Apa kau lupa kemarin sebenarnya anniversary hubungan kita yang pertama. YAA! Setahun itu tidak sebentar! Dan kamu hanya menggunakan hari itu dengan mengacuhkanku?” ucap Minho kesal.

“Hyung, sejak kapan hyung tertular penyakit cerewet Key hyung?” ucap Taemin polos. Taemin akhir-akhir ini memang lebih sering konsentrasi pada tugasnya yang menumpuk. Merasa tak diabaikan, Minho pun beranjak pergi. Taemin hanya menghela nafas melihat kekasihnya seperti itu. Diambilnya HP dari tasnya, dan mengetik pesan.

My lovely froggie, mianhae eum? Tugasku sangat banyak.
Nanti sore aku tunggu di rumah. Akan kumasakan makanan faforitmu. Yakseok!! <3

Taemin kembali meneruskan membaca buku tugasnya itu sampai HPnya bergetar kembali. Dibukanya pesan yang masuk.

Masakan aku daging ayam!! Kalo tidak, aku akan memakanmu sebagi gantinya.!

Taemin tersenyum membacanya. “Aigoo~ tampaknya aku harus belanja terlebih dahulu” pekiknya.
***
Taemin sibuk dengan kerjaannya di dapur. Sesuai dengan pesanan kekasihnya, Minho, dia harus memasak ayam saat ini. Bukan masalah besar karena memang Taemin mempunyai keahlian memasak.

Ting tong…

Taemin menghentikan pekerjaannya sebentar. “Tidak seperti biasanya hyung menekan bell. Apa ini karena dia masih marah padaku? Aigoo~” eluh Taemin sambil pergi membukakan pintu apartemennya. Sebenarnya Minho tau password apartemen Taemin, karna itu Taemin jadi bingung, biasanya Minho akan langsung masuk tanpa menekan bell. Taemin membukakan pintu apartemennya dan melihat sosok pria di depannya sambil membawa seikat bunga.

“Taemin.. Lama tidak jumpa..” wajahnya pucat, tapi Taemin sangat hafal dengan pria yang sedang berada di hadapannya ini.

“K..kkaii..? Kau kembali?” ucap Taemin tak percaya.

“Nee, aku kembali Taeminnie. Bogoshippoyo nae Taeminnie” Senyuman pahit tampak di wajah pucat pria yang bernama Kai tersebut. Taemin berdiri kaku menatapnya.

“Kaiiii……!!!” teriak Taemin sambil memeluk Kai yang tampak terkejut melihat reaksi Taemin. Sedetik kemudian Kai mempererat pelukannya di tubuh Taemin. Keduanya tampak menangis di pelukan masing-masing.

“Haruskah aku melihat pemandangan ini?” tiba-tiba Minho berdiri di belakang Taemin dan Kai yang tampak terkejut akan hadirnya Minho.

Taemin segera melepaskan pelukannya pada Kai dan mengusap kasar air mata yang sempat mengalir di kedua matanya. Tapi itu masih dapat terlihat oleh Minho.

“Siapa dia chagiya?” ucap Minh. Taemin terdiam. Tubuhnya kaku. Minho mengamati sikap Taemin yang bergetar itu. Taemin mati-matian menahan isakan yang mendesak ingin keluar. Minho memperhatikan Kai yang berdiri disebelah Taeminnya. Sampai akhirnya Minho menyadari bekas luka di telapak tangan Kai.

“Jadi kamu orang yang menyelamatkan nyawa Taemin waktu kecil?” selidik Minho. Ya Minho tau, masa kecil Taemin. Taemin hampir mati tertabrak mobil saat bermain dengan Kai di pinggir jalan. Saat itu keduanya berumur 4 tahun. Tapi Kai seakan mengerti bahaya yang akan diterima Taemin, langsung mendorong Taemin sehingga tubuhnya yang tertabrak mobil, bahkan hingga dua kali karena saat tertabrak pertama, tubuhnya terpental dan tertabrak mobil dari arah lawan. Dan luka di tangannya adalah bukti nyata saat mobil lain itu tak sengaja melindas tangan kecilnya.

Kai tersenyum pada Minho yang menyadari jati dirinya. “Ne, namaku Kai.”

“Jadi dia cinta pertamamu, Taemin-ah?” Taemin tersentak. Minho tak menyebutnya chagiya lagi. Hanya satu hal yang dapat menyebabkan itu, Minho sedang tidak dalam kondisi emosi yang baik pada Taemin. Taemin semakin menundukkan kepalanya. Bahunya semakin bergetar. Kai menyadari keadaan aneh Taemin, segera memeluk bahunya. Minho yang melihatnya sangat ingin menghajar Kai, berani-beraninys dia menyentuh Taeminnya. Tapi dia tidak bisa. Kai yang membuat Taemin masih hidup sampai sekarang. Minho hanya bisa mengepalkan tangannya kuat menahan amarah yang sudah membuncah dihatinya.

“Apa kamu kekasih Taemin? Bisakah aku meminjamnya sebentar? Aku janji tidak akan lama.” Ucap Kai sambil tersenyum kearah Minho.

Minho terdiam. Dia tidak rela melihat Taeminnya bersama pria lain, tapi pria itulah yang membuat nyawa Taemin masih berada ditubuh Taemin. Bibirnya kaku, dia ingin sekali melarang Kai. Hanya tatapan mata yang mengisyaratkan bahwa Minho tak ingin Kai membawa Taemin.

Kai sepertinya sadar ketidaksukaan Minho terhadapnya. Dia hanya tersenyum dan membungkuk memberi salam kepada Minho. Sedetik kemudian dia melangkah pergi, tetapi Taemin menahannya. Kai maupun Minho terkejut dengan reaksi Taemin.

“Aku pergi denganmu.” Lirih Taemin yang langsung menarik Kai pergi dari Minho meninggalkan apartemennya.

“Dia cinta pertamaku, hyung. Dia yang membuatku hidup. Tapi aku menghancurkan hidupnya. Setelah kecelakaan itu, dia divonis memiliki semacam penyakit aneh. Sistem imun tubuhnya hancur. Setiap hari dia mengigil kedinginan. Dia tidak dapat tinggal di negara dingin. Dia pergi setelahnya. Hyung, andai aku diberi kesempatan, aku akan mengabulkan apapun keinginannya. Apapun itu, karena dia, aku masih hidup dan akhirnya bertemu denganmu hyung.”

“Apapun…?” gumam Minho saat teingat perkataan Taemin dulu. Setetes air mata meleleh menuruni pipi Minho.
***
Sudah 3 hari dari saat terakhir Minho bertemu dengan Kai. Dan sudah 3 hari pula Minho tidak melihat Taemin di kampus. Tidak juga di apartemennya.

“Ya kodok, kenapa sendirian aja? Mana Taemin?” tegur Jinki saat melihat Minho yang sendirian di sebuah café.

Minho tidak merespon Jinki dan tetap sibuk menatap layar HPnya. Wajah Taemin menghiasi wallpaper HP Minho. Jinki hanya menghembuskan nafas kesal melihatnya. Jinki baru saja duduk di sebelah Minho sampai sedetik kemudian muncul Key, kekasih Jinki, teman Minho juga berlari kearahnya.

“Hosshh.. YAA! KODOK..!! Hosshh..!” Ucap Key abstrak antara kesal atau kelelahan berlari.

“YAA! Apaan sih? Datang-datang bikin rusuh!” sentak Minho kesal. Langsung saja Key meninju kepala Minho. Blettakk!

“YAA! APPO!!!” dengus Minho sambil mengelus pucuk kepalanya.

“Suruh sapa ngejek gua? Liat tuh!” Key langsung menunjuk arah luar Café.

“Awalnya aku aneh dengan dua orang itu, sekarang musim panas, diluar panas banget, tapi dua orang itu malah duduk tepat dibawah sinar matahari. Sampai kuperhatikan, bukannya itu Taemin Baby? See? Dengan siapa dia? Hey… YA KODOK!” Minho tidak peduli dengan ucapan Key. Matanya fokus melihat dua orang yang sedang tertawa lepas itu. Taemin dan Kai.

Sedetik kemudian Minho berdiri dan hendak keluar dari café. Key serta Jinki sontak mengejar Minho yg berjalan kea rah pintu café.

“YA! KODOK JELEK..! Mau kemana HAAH??!!” teriak Key keras. Sontak semua orang yang berada di café maupun luar café melihat kearah mereka. Benar saja, Key, Jinki maupun Minho pas berada di pintu café saat ini. Tak bisa dipungkiri suara Key saat ini sangat terdengar sampai radius yang cukup jauh. Dan cukup sampai ke telinga Taemin dan Kai. Sontak Minho dan Taemin bertemu pandang. Sejenak mereka terdiam dengan tatapan yang masih melekat satu sama lain.

“A.. Apa yang terjadi sebenarnya?” ucap Key bingung melihat tingkah Minho. Tapi Minho seolah tuli dan hanya menatap Taemin sendu.

Jadi inilah pilihanmu, Taemin. Baiklah, aku pergi. Berbahagialah. Tanpa suara, hanya gerakan bibir dari Minho. Tapi cukup jelas di mata Taemin. Tatapan Minho sedetik kemudian berubah kasar. Dia membuang muka dan pergi meninggalkan Taemin dan Kai yang sebenarnya memang berjarak berjauhan dengan Minho.

-Flashback Off-
***

Masih dapat kulihat jelas tatapan tajam itu. Hhhh… Minho hyung, hentikan tatapanmu.. jebal… kutatap wajah orang yang sedang bersama denganku. Dia tersenyum. Kusunggingkan senyum hambarku padanya. Dia hanya terkekeh kecil melihatku. Melihatnya tertawa, tak kusadari akupun terkekeh dengannya. Kai. Kamu memang selalu membuatnku merasa aman. Kuedarkan pandanganku kesekelilingku. Orang-orang berpakaian resmi itu tersenyum kearahku dan Kai. Tampak Key hyung dan Jinki hyung melambai ke arahku dan Kai. Kubalas mereka dengan anggukan kecil dan senyuman. Kusunggingkan senyumku pada semua yang saat ini berada di samping kanan kiriku dan Kai sesaat dan kembali menatap pria disebelahku. Kai yang masih tersenyum padaku.
Dan sampai saat ini, aku masih tetap melangkah padanya. Tatapannya berubah sendu. Hyung, ini memang pilihanku… I’m traped in my choice…

***

-Flashback On-

Author POV

“Taem, gwaenchana?” ucap Kai membuyarkan lamuanan Taemin. Taemin menatap Kai sambil tersenyum. Terkesan dipaksakan.

“Gwaenchana kkamjong.” Ucap Taemin sambil terkekeh.

“YA! Berhentilah memanggilku dengan sebutan itu! Apa aku sehitam itu?” Kai mempoutkan bibirnya mendengar panggilan Kkamjong yang ditujukan padanya oleh Taemin.

“Ne, sekarang kulitmu hitam! Hahaha.. padahal dulu kau begitu putih..”

“YA! Diamlah!!!” teriak kesal Kai. Namun yang ada Taemin masih setia tertawa melihat Kai yang kembali kesal.

“Kau tau, di tempatku aku masih putih dibanding orang sama. Kulitmu saja yang terlalu putih seperti perempuan Taemin noona!” sontak Taemin kesal dan melihat kulitnya sendiri.

“YAA! Aku namja! Dan kulitku normal sebagai namja! Kau tau??!!” teriak Taemin kesal sambil memukul tangan Kai yang berganti tertawa sekarang.

“Setidaknya tenaga pukulanmu lebih dari seorang yeoja.. Aiisshh” Kai mengelus bekas pukulas Taemin yang dirasakan sedikit terasa nyilu. Taemin kembali tertawa karenanya. Kai menatap intens Taemin yang sedang tertawa.

“Aku akan kembali besok siang, Taem.” Ucap Kai tiba-tiba pada Taemin yang sukses membuat tawa Taemin lenyap.

“Mworago?” Taemin sangat terkejut dan membulatkan matanya lebar. Kai tersenyum dan mengelus pucuk kepala Taemin.

“Aku akan pulang besok. Hari ini hari terakhirku di Seoul. Dan aku rasa, hari ini hari terakhirmu untuk berpura-pura padanya.” Ujar Kai pada Taemin. Taemin tidak mengerti maksud Kai hanya bisa menatap Kai bingung.

“Aku tau, aku cinta pertamamu. Dan asal kamu tau, Taemin juga cinta pertamaku. Tapi Taemin yang sekarang mencintai orang lain. bukan cinta pertamanya lagi.” Jelas Kai sambil senyum yang selalu mengembang dibibirnya.

“A..app.pa.. maksu..ud mu..?” ujar Taemin bergetar, entah mengapa perakataan Kai sangat pas mengenai perasaan Taemin. Kai tersenyum kembali mengelus pucuk kepala Taemin.

“Saat kita tadi tidak sengaja bertemu Minho, kamu tidak melepaskan pandanganmu sedikitpun darinya walaupun dia berbalik dan menghilang. Saat itu tanpa kau sadari, kau menggenggam tanganku erat sekali. Seakan kau menahan sakit saat dia pergi. Dan sejak itu tawamu menghilang dan kau sering melamun.” Jelas Kai. Taemin dengan cepat menggelengkan kepalanya.

“Aniyo, bukan seperti itu.. Aku..”

“Berhentilah berusaha membalas budi atas kejadian masa lalu kita, Taeminnie~” ucap Kai cepat memotong perkataan Taemin. Taemin terperangah. Tetes air matanya pun lolos membasahi pipinya.

“Uljima, dulu aku tulus menyelamatkanmu. Bukan seperti ini. Aku sama sekali tidak menginginkan balas budimu Taem. Aku mencintaimu. Sungguh. Tapi aku tahu kebahagiaanmu ada padanya. Maka aku tulus membiarkanmu bersamanya.” Ucap Kai seraya memeluk tubuh mungil Taemin.

Tangis Taemin pun pecah dalam pelukan Kai. Kai hanya bisa mengelus punggung itu memberikan ketenangan pada Taemin.

“Saranghae…”

-Flashback Off-
***

Hyung,, ini pilihanku. Aku memilihmu dari cinta pertamaku. Hyung, kamu kebahagiaanku saat ini.
Jarak antara kita semakin menipis. Hhhhh… Ku tatap wajah Kai, lagi. Dia tersenyum padaku, dan tatapannya berbalik ke Minho hyung yang tanpa terasa sudah berada pas di depan kami. Kai tersenyum padanya.
“Yaaa! Aku jauh-jauh datang kesini, bukan untuk melihat tatapan sendu kalian padaku.” Ucap Kai pada Minho hyung. Kai tersenyum sesaat padaku.
“Sudah waktunya, pergilah…” Kai kembali tersenyum padaku. Diambilnya tanganku dari lengannya dan diserahkannya ke tangan Minho hyung yang siap menerima tanganku.
“Berbahagialah…” ucapnya sebelum berbalik arah meninggalkan kami. Kami masih setia menatap punggungnya sampai dia membalikkan badannya dan duduk di bangku barisan depan bersama Key hyung dan Jinki hyung.

Kualihkan pandanganku dari Kai. Kini aku menatapnya yang sedang menatapku. Minho hyung. Aku tersenyum. Dan diapun tersenyum hangat padaku sesaat.
“Haruskah kalian berjalan sangat lama? Jangan membuatku cemburu padamu disaat acara pernikahan kita ini Chagiya!” bisiknya dengan bibirnya yang sengaja ia poud kan. Aku terkekeh kecil mendengarnya. Hei, bagaimana bisa dia masih cemburu di acara pernikahan kami?
“Saranghae..” ucapku. Kulihat senyumnya kembali mengembang.
“Nado,, saranghae…” balasnya. Dan pada akhirnya kami berbalik menatap sesosok pria yang sudah siap akan memandu acara mengikraran janji setia seumur hidupku dan Minho hyung. I’m traped love of you…



-END-